Jumat, 12 Maret 2010

Bung Karno dan Fotografi

Kopral Cepot:
Bahkan hingga akhir hayatnya, saat jasadnya terbujur kaku di Wisma Yaso, Jakarta, para fotografer masih berebut memotret wajahnya?dari dekat pula. Seperti dilaporkan wartawan Kompas dalam beritanya, sontak hal ini membuat berang Ratna Sari Dewi. "Cameraman jangan terlalu dekat. Jangan kurang ajar. Hormati Bapak," demikian Dewi mendamprat.

Barangkali dalam kesedihannya, janda muda itu tak menyadari: terlepas dari tugas kewartawanan, para juru kamera itu justru sedang memberikan penghormatan terakhir bagi almarhum suaminya. Bukankah, sebagaimana kesaksian para wartawan "kiblik" yang mengenalnya sepanjang revolusi kemerdekaan, Bung Karno tak pernah mau pergi ke mana-mana tanpa diiringi fotografer? Lagi pula, adalah sang proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia itu sendiri yang, "Selalu mengizinkan para fotografer memotret dirinya dari dekat, sementara wartawan tulis cuma berdiri di pojok," kata R.M. Soeharto, pensiunan juru kamera Berita Film Indonesia, mengenang.

Untuk ukuran kebanyakan kepala negara, ini sudah cukup jauh. Tidak bagi Sukarno. Kedekatannya dengan para fotografer tak terhenti pada acara-acara resmi, tapi juga berlaku dalam hubungan sehari-hari. Mengajak Mendur bersaudara dari Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) sarapan pagi di serambi istana, atau menghentikan mobil kepresidenan di pinggir jalan sekadar untuk memberi tumpangan pada juru kamera yang tertinggal angkutan, hanyalah beberapa contoh kebiasaan-kebiasaan Bung Karno yang di masa rezim Soeharto, dan bahkan dalam banyak pemerintahan di belahan dunia lain hingga saat ini, cuma bisa terjadi dalam mimpi para wartawannya.

Tak mengherankan bila Dewi, yang di antara istri-istri Presiden Sukarno termasuk paling akhir mengenal dunia ini, salah paham. Hubungan khusus antara Bung Karno dan para fotografer memang tak bisa dilihat dan dinilai hanya dari protokol yang pada umumnya terkait dengan status dan jabatan kepresidenan. Bahkan tak bisa diukur berdasarkan takaran yang berlaku bagi orang-orang penting atau pejabat tinggi pada umumnya. Ia memiliki formulanya sendiri.

Dalam editorial yang ditulisnya 31 tahun silam, wartawan senior Jakob Oetama menyitir bahwa dalam dunia Bung Karno, "Kekenesan pribadinya berperanan." Sejauh yang berhubungan dengan citra diri, hal itu sudah bisa kita rasakan, bahkan sejak gambar-gambar dirinya dibuat oleh para tukang potret tak bernama di awal abad silam.

Berpose di deretan paling belakang, atau dikelilingi rekan-rekan sebangku sekolahnya di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya? kebiasaannya pada periode ini? memang tak percuma Sukarno muda diberi nama si Putra Fajar. Pasang aksi. Penuh gaya dari ujung destar hingga ujung jarik dan selopnya. Seolah dalam foto-foto keroyokan yang kini sudah menguning itu cuma ada Sukarno seorang. Demikian pula di zaman pendudukan Jepang. Berpidato di depan podium Chuo Sangi-in (Dewan Pertimbangan Pusat), memimpin barisan romusha, atau menyeruput teh hangat di rumah peristirahatan Panglima Angkatan Darat Daerah Selatan, Marsekal Terauchi, di Saigon, Sukarno semakin menegaskan kehadirannya dalam setiap penampilan, seiring dengan pertumbuhan ambisi dan ketokohannya. Sejak itu, orang lain yang menjadi gambar latar baginya. Lihat: setelah proklamasi kemerdekaan, secara tersirat dan tersurat Bung Hatta selalu satu-dua langkah di belakangnya, juga Sjahrir, bahkan Amir Sjarifuddin, yang mengepalai Kementerian Penerangan RI. Padahal tiga orang lulusan Belanda itu dikenal mempunyai selera dan gaya tinggi ala Eropa. Yang tak ada pada mereka, ya, itu tadi: "kekenesan." Seluas apa pun dimensi kemanusiaannya, di mata publik, Hatta yang kalem dan lembut seolah cuma punya satu pesona, yakni sebagai orang nomor dua abadi. Sjahrir juga cuma punya satu: sebagai "Bung Kecil", julukan setengah meledek-setengah memuji yang muncul secara tak terduga setelah sosoknya yang memang kecil dan pendek itu dipotret bersama "dua orang bule jangkung" lawan berundingnya, jenderal pasu-kan Inggris Christison dan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Mook. Idem dengan Amir Sjarifuddin, itu pun baru di akhir hayatnya, saat pencinta karya klasik Barat itu dipotret asyik membaca naskah Romeo & Juliet di gerbong kereta yang membawanya dari Madiun ke Yogyakarta sebagai terhukum mati.

Tan Malaka lebih parah lagi. Kita hanya pernah mengenal wajahnya dari selembar pas foto (yang mana menghiasi semua buku-bukunya yang kembali digandrungi orang dewasa ini). Sebaliknya, ribuan foto yang dibuat para fotografer IPPHOS, Antara, BFI, bahkan dari dinas penerangan Belanda, Regering Voorlichtingdienst, boleh diajukan sebagai bukti: Bung Karno punya seribu daya pikat untuk seribu peristiwa. Ada Presiden Sukarno sang pemersatu di atas panggung. Ada Presiden Sukarno sebagai kepala negara yang merakyat, siap menggulung pipa celana dan mencemplungkan kakinya ke luapan air got di desa-desa. Ada Bung Karno seorang connoisseur kesenian, asyik mengobrol dengan para seniman di studio mereka. Juga Sukarno sebagai bapak negara, mengajar baca-tulis mbok-mbok buta huruf atau menyalami pengemis di Malioboro. Sukarno pemerhati otomotif, Sukarno sang "lady killer", dan sebagainya.

Malah, di arsip IPPHOS, masih ada puluhan negatif asli tentang Sukarno yang sejauh ini luput dari publikasi. Di situ digambarkan Sukarno sebagai seorang lelaki dan bapak, tanpa embel-embel, menikmati liburannya. Naik getek sembari menggendong Guntur kecil. Main bola di lapangan tanah dengan bocah-bocah kampung. Lantas mengaso di atas tikar pandan di bawah naungan pohon-pohon. Berkelakar dengan gadis-gadis desa yang memikul dagangan ke pasar. Berbagi nasi bungkus dengan para pembantunya. Menyusuri pinggir sungai hanya ditemani seorang prajurit (satu-satunya yang terlihat dalam semua rekaman bertanggal Juni 1947 itu) yang berada beberapa langkah di belakangnya. Begitu alami, begitu intim. Sampai-sampai nyaris saja kita dibuat lupa olehnya: adegan-adegan yang penuh dengan spontanitas itu direkam bukan oleh anggota keluarga Bung Karno atau sahabatnya yang paling dekat, melainkan melalui mata lensa seorang juru foto profesional yang memang hadir di situ dalam rangka tugas. Artinya, momen-momen bersahaja itu bukan lagi sekadar persoalan "kekenesan" saja, tapi juga sudah memasuki masalah hitung-hitungan yang matang.

Bandingkan foto piknik ini dengan acara konferensi pers yang mempertemukan kabinet pertama RI dengan wartawan asing, 4 Oktober 1945. Dari 16 orang pejabat tinggi kita, hanya 4 tokoh?Sukarno, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Alisastroamidjojo, Menteri Sosial Iwa Kusumasumantri, dan juru bicara Sukardjo Wirjopranoto? yang berdasi. Pun demikian tak semuanya mengenakan jas. Di antara yang memilikinya adalah Menteri Luar Negeri Subardjo, walaupun setelannya itu terlihat terlalu sempit dan kependekan untuk badannya yang gemuk.

Sebaliknya, Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, yang baru dua hari sebelumnya dilepaskan dari tahanan Jepang, mengenakan jas yang tampak kedodoran dan cuma dipadu dengan celana pendek ala kaum sekolahan zaman Hindia Belanda. Bahan pakaian sesuatu yang langka sepanjang penjajahan Jepang, bahkan lama sesudah itu. Toh, hari itu Bung Karno bukan saja yang paling parlente dan penuh percaya diri. Ia juga sudah siap dengan setelan yang akan menjadi seragam khasnya sebagai pemimpin negara. Ditinjau dari sudut itu, semua dokumentasi yang dibuat tentang Bung Karno akan memperlihatkan pola yang sama, apa pun kejadian dan di mana pun lokasinya. Bung Karno tahu bagaimana menyenangkan hati para juru kamera (dan sebagai buntutnya menyenangkan hatinya sendiri). Ia tahu kapan harus tampil serius--tengok foto terkenal pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, karya Frans Mendur?kapan bersahaja, dan kapan harus menggoda.

Barangkali inilah rahasia Bung Karno yang sesungguhnya. Ketika Presiden Sukarno ditangkap oleh serdadu Belanda yang menyerbu Yogyakarta pada aksi polisional kedua tahun 1948, ia membiarkan dirinya dipotret oleh juru kamera musuh. Raut wajahnya tenang, nyaris dingin. Dibalut pakaian yang licin disetrika, selembar jas panjang menjuntai dari lengannya. Langkahnya pasti bak seorang gentleman Inggris. Dan sebagaimana seorang kelas tinggi, seorang ajudan yang menenteng koper terlihat mengiringi di sisinya. Sang fotografer boleh berbangga ia mendapatkan materi eksklusif bagi propaganda kerajaannya, tapi seluruh penampilan Bung Karno saat itu memperlihatkan sebaliknya: betapa wibawa, dan kebenaran, sebenarnya ada di tangan Republik Indonesia. Yang agresor, yang salah, itu justru Belanda. Setelah Belanda mundur, dengan perhitungan yang sama Presiden Sukarno menugasi Letnan Kolonel Soeharto, wartawan Rosihan Anwar, dan fotografer IPPHOS Frans Mendur (perhatikan komposisi orang yang dipilihnya) untuk menjemput Panglima Besar Jenderal Sudirman di markas gerilyanya, dekat Wonosari. "Untuk menghindari kesan telah terjadi perpecahan," Rosihan Anwar mencatat.

Sang Jenderal, yang hidup dengan paru-paru tinggal sebelah itu, sampai harus ditandu menembus hutan dan bukit untuk tiba di serambi kediaman Presiden RI keesokan harinya. "Ketika kami tiba, suasana sangat tegang," tutur Tjokropranolo, pengawal pribadi Panglima Besar (belakangan menjabat Gubernur DKI). Sudirman masih marah kepada Sukarno dan Hatta, yang ingkar janji untuk turut bergerilya dan malah membiarkan dirinya ditangkap Belanda. Ia hanya berdiri kaku dengan sebelah tangannya menggenggam tongkat, tapi Sukarno serta-merta merangkul tubuhnya yang ringkih.

Seketika itu pula matanya menangkap sosok Frans Mendur yang memegang kamera. Abdoel Wahab dan M. Sayuti dari Antara, yang hadir tapi tak memotret karena kehabisan film, menjadi saksi mata. "Momennya dapat tidak?" tanya Bung Karno kepada fotografer kesayangannya itu. Kepala IPPHOS di Yogya itu menggelengkan kepala. "Terlalu cepat," jawabnya. Pada saat bersamaan, Kepala BFI, R.M. Soetarto, yang datang terlambat, baru saja melangkah ke serambi. Ia, sebagaimana Frans Mendur, menerima instruksi yang sama dari Presiden RI. "Kalau begitu, diulang adegan zoentjes-nya," kata Bung Karno. Puluhan tahun kemudian, foto inilah yang muncul di buku-buku sejarah. Di bawahnya, besar kemungkinan kita akan mendapatkan kalimat yang bombastis, yang menggambarkan betapa "Panglima Tertinggi Bung Karno dan Panglima Besar Sudirman laksana kakak-adik yang telah sekian lama tak bersua. Rindu yang tertanam dan tertahan menjelmakan sikap yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata." Melihat kerangka waktu ketika foto-foto itu dibuat, pemahaman Bung Karno terhadap kekuatan fotografi dan pencitraan memang luar biasa. Ini aspek yang tak kalah pentingnya.

Apa yang dilakukannya bekerja sama dengan para juru kamera masih merupakan sesuatu yang baru bagi zamannya, bahkan nyaris tak dikenal di antara pejabat-pejabat tinggi Hindia-Belanda di zaman sebelumnya. Para gubernur jenderal biasa memboyong rombongan fotografer, termasuk menyediakan fasilitas kamar gelap di atas kapal api yang membawa mereka keliling Nusantara, tapi tak satu pun yang bisa menandingi aksi dan gaya Sukarno yang begitu alamiah.

Di Eropa, Hitler memiliki kesadaran yang sama tentang propaganda. Sayang, pesan dan kepribadiannya tak selalu menunjang citranya. Di Amerika Serikat semasa depresi ekonomi tahun 1930-an, Presiden Roosevelt menjadi suara yang mempersatukan rakyatnya. Namun, sedikit yang mengenang wajahnya. John Kennedy yang pertama berhasil. Belakangan juga Bill Clinton, antara lain melalui buku Clinton: Portrait of Victory (Warner Books, 1993) karya fotografer P.F. Bentley. Toh, apa yang mereka kerjakan ibarat mainan kanak-kanak. Kennedy diliput oleh para fotografer muda Magnum, tapi Sukarno dipotret Henri Cartier-Bresson, "embah"-nya Magnum. Clinton cuma seorang politisi yang pandai meniup saksofon, Bung Karno bisa memproklamasikan kemerdekaan, mendalang, merancang bangunan, dan main "bal-balan" dengan anak-anak kampung.

Ketika Kennedy dikerubungi para fotografer Magnum, di awal tahun 1960-an, Bung Karno sudah tiga dasawarsa merajai lapangan. Berdesak-desakan bersama rakyat biasa saat Pemilihan Umum 1955, melantai bersama putrinya, Megawati, dalam sebuah resepsi istana, atau sekadar menjahili Bung Hatta di meja makan, Bung Karno hafal luar kepala apa yang dibutuhkan para fotografer untuk rekaman mereka. Pada periode ini, seluruh pose dan gerak-geriknya telah mencapai stilisasi dari aksi dan gaya pada masa-masa sebelumnya. Yang baru cuma aksesorinya?kacamata hitam, tongkat komando, bintang jasa. Dalam suasana tahu sama tahu itu, segalanya jadi lebih efisien. Lebih pasti, tapi terkadang juga lebih terasa sebagai sebuah formula. Senyum dan mimik Bung Karno?betapapun sejak awal selalu penuh "kekenesan" dan perhitungan?pada saat itu lebih menyerupai milik seorang aktor profesional: siap dijadikan poster ukuran raksasa dan digelar sebagai tontonan massa.

Pada akhirnya, Sukarno dengan segala "kekenesan" dan hitung-hitunganya cuma menjadi karikatur dari dirinya sendiri, seperti Elvis gendut yang tampil di Las Vegas. Tetapi ketika maut datang, terbukti Bung Karno juga yang menang jackpot. Kematian tak menghentikan apa-apa. Pers tetap berburu gambarnya. Para pemujanya mengenang dan menghormatinya, tidak dengan cara menenteng puluhan buku-buku yang ditulisnya, atau meneriakkan slogan-slogan yang sudah susah diucapkan. Mereka cukup mengusung fotonya dari atas metromini, atau menempelnya di bemper rombeng bajaj, dan Bung Karno "hidup" kembali. Coba, tanya saja soal Golkar dan Soeharto.

Sumber : Tempo Majalah Berita Mingguan, 14/XXX 04 Juni 2001
Sumber: http://sukasejarah.org/index.php?topic=164.0;wap2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar